Sejak munculnya berbagai tools AI, cara kita membuat aplikasi jadi jauh lebih cepat. Saya sendiri sekarang sudah punya workflow yang cukup konsisten untuk bikin web app dari nol sampai live.
Di artikel ini saya share workflow vibe coding yang saya pakai sehari hari, tanpa bahas teknis detail karena sudah ada di video. Fokusnya di sini adalah alur kerja supaya kita bisa paham gambaran besarnya.
1. Generate UI dengan AI
Langkah pertama yang saya lakukan biasanya adalah membuat UI dulu.
Untuk ini saya biasanya pakai:
- Lovable
- Bolt.new
Saya cukup jelaskan halaman yang ingin dibuat, lalu AI akan generate struktur UI dan layout awal.
Ini sangat menghemat waktu karena kita tidak mulai dari blank page.
2. Simpan Project ke GitHub
Setelah UI sudah jadi, langkah berikutnya adalah menyimpan project ke repository.
Biasanya saya langsung push ke GitHub supaya:
- Versi project tersimpan
- Mudah diakses dari mana saja
- Bisa lanjut development di environment lain
GitHub jadi pusat project kita.
3. Lanjut Development di Editor AI
Setelah itu, saya lanjut development di coding environment.
Biasanya saya pakai:
- Kiro.dev
- VS Code dengan GitHub Copilot atau Claude Code
- Atau Google Antigravity
Di tahap ini saya mulai:
- Edit UI
- Tambah fitur
- Rapikan struktur code
AI tetap saya pakai untuk membantu menulis code supaya lebih cepat.
4. Setup Database dan Auth
Untuk backend basic, saya biasanya pakai stack yang simple tapi powerful.
- Database: Saya pakai NeonDB (PostgreSQL).
- Authentication: Saya pakai Clerk untuk handle login dan user management
Dengan kombinasi ini, kita tidak perlu setup backend dari nol.
5. Tentukan Tech Stack (Opsional Tapi Penting)
Biasanya saya pakai dua pendekatan tergantung kebutuhan project.
Opsi 1: React Vite + Hono + Cloudflare Worker
- Frontend di Vercel
- Backend di Cloudflare Worker
- Lebih fleksibel untuk arsitektur terpisah
Opsi 2: Next.js (Fullstack)
- Frontend dan backend jadi satu
- Menggunakan API route dari Next.js
- Lebih simpel karena cukup 1 deployment
Pemilihan ini tergantung kompleksitas project.
6. Deploy ke Production
Langkah terakhir adalah deploy supaya aplikasi bisa diakses online.
Biasanya saya deploy ke:
- Vercel untuk frontend atau fullstack Next.js
Kalau pakai arsitektur terpisah:
- Frontend tetap di Vercel
- Backend di Cloudflare Worker
Dengan setup ini, aplikasi sudah siap digunakan.
Kenapa Workflow Ini Efektif
Workflow ini efektif karena kita menggabungkan AI dan tools modern.
AI digunakan untuk:
- Generate UI
- Membantu coding
- Mempercepat development
Sementara tools seperti GitHub, database, dan hosting membantu kita menjaga struktur project tetap rapi dan scalable.
Kesimpulan
Workflow vibe coding yang saya pakai cukup simpel.
Mulai dari generate UI dengan AI, lanjut development dengan bantuan AI tools, lalu integrasi database dan auth, dan terakhir deploy ke production.
Pendekatan ini membuat proses build aplikasi jadi jauh lebih cepat dibandingkan cara tradisional, tapi kita tetap punya kontrol penuh terhadap hasil akhirnya.
Kalau kita konsisten pakai workflow seperti ini, membuat web app dari nol sampai live bukan lagi proses yang lama.



